20 Apr 2014

Sad Cypress (Mawar Tak Berduri)


Judul Asli: Sad Cypress
Judul Terjemahan: Mawar Tak Berduri
Alih Bahasa: Ny. Suwarni A.S.
Penerbit: PT. Gramedia Pustaka Utama
Tebal: 352 halaman
Terbit: Februari 2013 (cetakan VII)


Mari, marilah kematian,
Baringkanlah aku di bawah pohon cypress;
Terbang, terbanglah nyawa;
Aku dibunuh perawan cantik yang kejam.
Kain kafanku yang putih, penuh dengan racun
Yang disiapkan;
Tak seorang pun yang jujur,
Terlibat dalam kematianku ini.

Berbeda dari karya-karya sebelumnya, Agatha Christie mengawali Sad Cypress dengan menghadirkan suasana sebuah sidang pengadilan. Sang terdakwa, Elinor Carlisle, dituduh terlibat dalam dua kasus pembunuhan sekaligus: Laura Welman, bibinya yang kaya-raya dan Mary Gerrard, gadis yang selama ini selalu menjaga Mrs. Welman.


Semua berawal dari surat kaleng yang diterima Elinor, memperingatkan bahwa seseorang di dekat Mrs. Welman yang mungkin akan 'memanfaatkan' kebaikan bibi Elinor yang memang sudah lama sakit-sakitan. Elinor mencoba bersikap cuek, tapi mau tidak mau sebuah nama muncul di benaknya: Mary Gerrard. Mary adalah putri tukang kebun yang bekerja di rumah Mrs. Welman dan sejak kecil selalu menerima curahan kasih-sayang wanita tua itu. 

Ditemani tunangannya, Roddy, Elinor lantas mengunjungi bibinya. Selama ini Elinor tidak pernah mengkhawatirkan masa depannya karena bukan sekali dua kali Mrs. Welman berkata bahwa seluruh hartanya akan jatuh ke tangan sang keponakan sepeninggalnya kelak. Selain itu,  kehidupan pribadi Elinor sendiri boleh dibilang sudah lengkap setelah bertunangan dengan Roddy, sepupu jauh yang sudah dikenalnya sejak kecil. Mereka selalu terlihat serasi, walaupun selain Elinor (yang berkeras menyangkal), rupanya Mrs. Welman juga sadar bahwa kadar cinta Elinor pada Roddy jauh lebih tinggi daripada sebaliknya.

"Mencintai seseorang secara berlebihan selalu mengakibatkan lebih banyak kesedihan daripada kebahagiaan. Namun, bagaimanapun juga, Elinor, tidaklah baik kalau seseorang tidak mengalami rasanya jatuh cinta. Seseorang yang tidak pernah sungguh-sungguh jatuh cinta tak pernah pula sungguh-sungguh merasakan arti hidup..." (hal.49)


Sampul edisi Finlandia
Elinor tak menyangka bahwa kunjungannya ini hanyalah awal dari kehancuran hidupnya. Betapa tidak? Ia harus menghadapi kenyataan bahwa Roddy malah terpikat pada Mary Gerrard, yang digambarkan Agatha Christie memiliki kecantikan bagaikan mawar segar. Pertunangan mereka pun putus, dan seakan itu belum cukup, Mary tewas saat sedang bersama Elinor dan ia pun didakwa sebagai pelaku pembunuhan sang rival cinta. Lalu mengapa ia juga dituduh terlibat dalam kematian Mrs. Welman? 

Untunglah, saat rasanya nyaris semua orang yakin Elinor-lah yang bertanggungjawab atas kedua kematian itu, masih ada seseorang yang percaya gadis itu tidak bersalah dan menghubungi Hercule Poirot untuk meminta bantuannya. Bagaimana cara sang detektif terkenal memecahkan kasus yang sepertinya semata-mata dilatarbelakangi motif dendam dan cinta ini? 




"Wajah manusia itu sebenarnya, tak lebih dan tak kurang, hanyalah sebuah kedok." (hal. 73)

Biasanya setiap kali membaca novel Agatha Christie yang menampilkan Poirot, perhatian saya pasti selalu tersita pada bagaimana cara sang detektif memecahkan kasus, belum lagi tingkah lucu dan nyentriknya yang selalu mengundang geli campur kesal ^^" 

Tapi ada sesuatu yang berbeda dengan Sad Cypress yang pertama kali diterbitkan pada tahun 1940. Bisa jadi ada pembaca yang merasa kurang puas karena Poirot baru muncul di pertengahan cerita, tapi bagi saya pribadi hal itu tidak jadi masalah besar, karena sejak awal sudah dibuat penasaran oleh karakter Elinor Carlisle. Dari luar ia terlihat begitu tenang dan selalu sanggup menjaga kelakuan layaknya gadis dari keluarga terpandang, tapi tetap saja ia cuma manusia biasa yang sesekali tak mampu menyembunyikan perasaan. Setiap kali ada adegan yang menampilkan Elinor dan Mary (terutama setelah Elinor tahu tunangannya jatuh cinta gadis itu), saya selalu dibuat berdebar-debar apakah Elinor akan mendobrak 'dinding es' yang menyelubungi dirinya dan membuat perhitungan pada Mary saat itu juga XD Singkatnya, di sini Dame Christie membuktikan bahwa dirinya juga piawai meracik kisah percintaan sebagai tema utama, bukan hanya sekadar bumbu penyedap.

Anda penggemar novel roman tapi belum pernah menyentuh genre fiksi kriminal karena terlanjur takut atau seram? Mungkin Sad Cypress bisa menjadi pilihan pertama dan bisa jadi.... sangat mungkin... setelah membacanya, Anda (khususnya kaum perempuan) akan mengangguk-angguk seraya berkomentar, "Aaah... Dulu saya juga pernah seperti ini." :D

Trivia:

1. Kutipan di awal review diambil dari lakon drama karya William Shakespeare, Twelfth Night, yang juga dicantumkan Agatha Christie sebagai pembuka kisah ini.

2. Roddy berkata bahwa sikap Elinor yang anggun dan tak tersentuh layaknya la Princesse Lointaine-lah yang membuatnya jatuh cinta pada gadis itu. Princesse Lointane adalah istilah dari bahasa Prancis yang berarti 'distant Princess', sebutan untuk karakter putri dari roman berlatar abad pertengahan yang membuat banyak kesatria pengembara jatuh cinta padanya, padahal mereka hanya mendengar cerita-cerita tentang sang putri dan belum pernah bertemu langsung.

3. Setelah Sad Cypress terbit, belakangan Agatha Christie malah berpendapat bahwa cerita itu akan lebih baik tanpa kehadiran Poirot.

3 komentar:

  1. Setuju, membaca kisah ini kita jadi hanyut seolah seperti membaca kisah romans daripada genre detektif/misteri itu sendiri :) Dan, saya jadi kangen membaca ulang novel ini :).

    BalasHapus
  2. Lama nggak baca yang ini, sudah lupa. Jadi pengin baca lagi.

    BalasHapus
  3. Wah, aku suka banget buku ini. Menurutku Sad Cypress memang salah satu seri Poirot yang paling romantis... ^_^ penokohannya asyik...

    BalasHapus