7 Jan 2014

Come, Tell Me How You Live


Judul: Come, Tell Me How You Live -- an archaelogical memoir
Penulis: Agatha Christie Mallowan
Penerbit: Harper Collins
Tebal: 205 halaman
Cetakan tahun: 1999


Penggemar Agatha Christie pasti tahu kalau pengarang ini sering memakai Timur Tengah sebagai setting dalam novelnya. Tidak mengherankan, karena suami keduanya, Sir Max Mallowan, adalah seorang arkeolog. Katanya, karena bosan ditanyai terus mengenai pengalamannya sebagai istri arkeolog, akhirnya dia menulis buku memoar ini, Come, Tell Me How You Live.

Cerita dimulai dari persiapan keberangkatan Agatha dan Max ke Syria (di sini saja kita sudah disuguhi susahnya mencari pakaian yang cocok), dari sana mereka menemui Hamoudi (kawan lama Max) dan arsitek mereka, Mac (terlalu sopan dan sedikit bicara!), lalu mereka memilih staf pekerja lokal yang kemampuannya sedikit meragukan, tapi setidaknya jujur.

Christie menekankan bahwa suaminya lah yang arkeolog, bukan dia, jadi dia sama sekali tidak berbicara mengenai arkeologi selain penjelasan singkat mengenai hal-hal yang mereka temui. Terkadang ada beberapa istilah yang membuat saya bingung, tapi untunglah sekarang ada google!


Christie memilih cerita-cerita yang ringan dan lucu seputar perbedaan budaya antara mereka dan para pekerja, rasa senang atau frustrasi menghadapi berbagai karakter eksentrik dan pandangan hidup warga yang berbeda, serta berbagai masalah yang muncul karenanya, misalnya saat mobil terjebak di wadi, saat sopir mereka menghabiskan uang dengan membeli barang yang tidak perlu karena menurutnya lebih ekonomis, atau saat mereka harus menghabiskan malam di rumah yang penuh tikus yang berakhir dengan Agatha tidur di bawah langit berbintang.

Di kali lain, tim arkeolog harus meyakinkan penduduk lokal untuk bekerja di penggalian. Mereka semua menolak karena hasil panen bagus dan pangan mereka terjamin. Bagaimana lagi cara untuk membujuk orang yang merasa puas dengan hidupnya? "Kalau mau bekerja, kalian bisa membeli perhiasan untuk istri kalian!"

salah satu kisah dari buku
Buku ini selalu positif dan jauh dari kesan misteri dan pembunuhan yang ada di buku-buku Christie. Cara berceritanya membuat kita merasa berada di Timur Tengah dan mengenal orang-orang yang ada di sana. Kalaupun kita tidak mengenal pengarangnya dan menganggap buku ini buku travelling biasa (yang bersetting di tahun 30-an, tentunya), buku ini tetap menghibur.

Seberapa mengesankan ekspedisi ke Syria itu bagi seorang Agatha Christie? Berikut kutipan dari kata penutup yang ditulis beliau:

For I love that gentle fertile country and its simple people, who know how to laugh and how to enjoy life; who are idle and gay, and who have dignity, good manners, and a great sense of humour, and to whom death is not terrible.
Inshallah, I shall go there again, and the things that I love shall not have perished from this earth... 
 Spring, 1944

Finis
El Hamdu Lillah
                                                                    

Tidak ada komentar:

Posting Komentar