16 Feb 2013

Apa yang Mereka Kenakan di Masa Perang? (Fashion #3)

(Bagian I | Bagian II )


Catatan: Untuk artikel kali ini pembahasan difokuskan mengenai fashion di Inggris saja karena dampak perang berbeda di tiap negara :)


Periode 1940-an
{Five Little Pigs (1942), The Body in the Library (1942), The Moving Finger (1943), Towards Zero (1944), The Hollow (1946), Taken At The Flood (1948)}

HOW A BRITISH WOMAN DRESSES IN WARTIME: UTILITY CLOTHING IN BRITAIN, 1943
UTILITY CLOTHING IN BRITAIN, 1943© IWM (D 14790)
Perang Dunia Kedua menyebabkan kemampuan produksi menurun sementara permintaan meningkat karena para tentara membutuhkan banyak peralatan dan perlengkapan baru, sehingga pemerintah Inggris menetapkan ransum/pembatasan bagi barang konsumen. Pembatasan untuk pakaian disebut CC41 (Civilian Clothing 1941) yang mengatur jumlah bahan per baju dengan detail, termasuk jumlah kancing, lipit, jahitan, dan saku yang diperbolehkan. Pemerintah memastikan bahan pakaian diproduksi dengan baik sesuai standar dan tidak dijual melebihi harga walaupun berkualitas rendah (kainnya tipis daripada bahan pakaian biasanya). Untuk mendukung keputusan itu sembari menunjukkan bahwa keterbatasan tidak menghalangi kreativitas mereka, Board of Trade (semacam departemen perdagangan Inggris) meminta sebuah forum yang beranggotakan desainer-desainer kenamaan Inggris untuk merancang pola pakaian bersahaja sesuai dengan pembatasan yang disebut utility clothing. Pakaian dengan bahan yang lebih baik boleh diproduksi selama 85% hasil produksi mereka berupa utility clothing.

perbandingan busana sebelum dan semasa perang
Wanita umumnya mengenakan rok beberapa senti di bawah lutut, blus simple, blazer dengan bahu agak lebar, rapat di pinggang, yang dipengaruhi dengan gaya militer namun lebih feminim, sepatu berhak rendah atau wedge yang nyaman (peep-toe dilarang karena tidak melindungi kaki!), dan rambut dipotong sebahu untuk kepraktisan. Pakaian atau aksesori rajutan yang bisa dibuat sendiri menjadi pilihan jika benang wol tersedia. Stocking menjadi barang langka dan sangat sulit dicari karena ketiadaan kedua bahan utamanya: sutra biasanya diimpor dari Jepang sedangkan nilon digunakan tentara sebagai parasut. Wanita diminta bekerja dalam berbagai profesi yang sebelumnya hanya terbatas untuk kaum laki-laki (seperti membantu angkatan udara/laut, mengemudikan traktor, dst) memakai celana atau seragam terusan. Turban atau scarf populer dipakai wanita segala golongan untuk gaya sekaligus menutupi rambut yang berantakan karena bekerja keras.

Tetap menawan dalam perang

Kedengarannya nggak terlalu berat sih, tapi ternyata tiap orang hanya bisa mendapat pakaian baru dengan kupon/point yang diberikan pemerintah setiap tahun, sehingga pakaian baru yang bisa mereka dapatkan sangat terbatas walaupun mereka memiliki uang yang diperlukan. Para wanita menjadi kreatif dengan menambal pakaian lama dan memodifikasi setelan pria (yang kebanyakan pergi berperang) menjadi pakaian wanita, atau pakaian orang dewasa menjadi pakaian untuk anak. Namun begitu, dalam keadaan yang sulit ini para wanita Inggris tidak menyerah untuk tampil cantik. Mereka selalu menjaga riasan wajah dan rambut tetap rapi untuk menaikkan moral.


Untuk melindungi pakaian supaya tidak cepat rusak atau kotor, terutama jika ada serangan di kota, digunakanlah Siren suit yang pada dasarnya adalah pakaian terusan dari kain tartan atau wol yang dipakai di luar baju biasa.

Para pria yang tidak bertugas mengenakan kemeja tanpa manset, dasi berbahan rayon, pulover atau sweater, dan kadang dilengkapi jas yang kerahnya lebih sempit dan tidak mempunyai penutup saku. Banyak juga yang memilih untuk mengenakan setelan lama mereka. 

rajutan menjadi tren
contoh gambar dari drama Inggris Foyley's War



-----------------------

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar